Selamat Datang di Blog Pribadi Lailan Syafira...
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, October 30, 2011

Cerpen: Afifah dan Malam Berdarah di Pandan

Afifah dan Malam Berdarah di Pandan
Oleh : Lailan Syafira





lailansyafira.blogspot.com, book islamic, fiction books, fiction novels, islamic novel, Karya Sastra Terjemahan, novel islam, novels, published novel, story novel
Pandan, pantai termahsyur di Kota Elanga, Sibolga. Keindahan panorama pantai dengan Pulau Situngkus di tengah-tengahnya itu membuat siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum. Sibolga, surganya para nelayan. Pandan, tempat nelayan bergumul mencari ikan. Dan Pandan, tempat semua orang bersuka cita bersama keluarga tercinta. Tapi tidak untuk dia...
Langit di ufuk barat Pandan sore itu semburat jingga, tanda sang surya akan pergi dari pelukan sang alam, berganti malam bertemankan rembulan dan bertabur bintang gemintang. Sore itu, cerah ceria terlukiskan di panggung langit Pantai Pandan. Namun, keceriaan panggung langit dan keindahan Pandan bukanlah lagi miliknya. Dia tidak tahu kapan terakhir kali ia menikmati keindahan Pandan, bahkan dia tidak perduli lagi dengan keceriaan yang dimainkan oleh orkestra langit di sore hari, seperti hari ini. Pandan memang tempat tinggalnya, tapi pandan juga menjadi neraka baginya. Afifah namanya. Gadis bisu anak nelayan yang telah lima tahun di tinggal ibunda tercinta menghadap Sang Pencipta. Seperti hari-hari biasanya, setiap sore ketika semburat jingga menghiasi langit, Afifah duduk di tepian pantai sambil memandang lepas kearah lautan. Tatapannya kosong, seolah ia hendak berbicara kepada laut, tapi laut tak mengerti apa yang di katakan Afifah. Di tangan kanannya tergenggam selembar foto, foto sang bunda tercinta.  Nanar ditatapnya foto itu, seketika bulir bening jatuh membasahi pipinya. Ia rindu bunda. Dalam hatinya tersirat keinginan untuk segera menyusul bunda, tapi entah kapan waktu itu datang. Nun dari kejauhan, Afifah melihat segerombolan  perahu nelayan mendekat. Diantara gerombolan perahu itu, dia melihat sebuah perahu yang sangat ia kenal. Perahu itu? Perahu lelaki itu. Lelaki yang telah membuatnya menganggap Pandan sebagai neraka. Lelaki itu, lelaki itu adalah ayahnya. Lelaki itu lalu turun dari perahunya menghampiri Afifah. Wajahnya hitam legam, perawakannya kasar, dan matanya seperti elang yang hendak mencengkram mangsanya. 
“Plak!!!.” Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Afifah.
“Sedang apa kau disini, heh? Apa sudah tidak ada lagi yang bisa kau kerjakan di rumah sehingga kau enak-enakan bersantai disini, sementara aku di tengah laut sana mencari uang…, menantang ombak?!! Pulang kau!!!” Bentak lelaki itu pada Afifah sambil menarik paksa rambutnya. Begitulah tingkah laku lelaki itu setiap hari pada Afifah sejak ia di tinggal mati istrinya. Afifah sering di tampar, di tendang, di kurung dalam kamar mandi, dan di sulutnya dengan puntung rokok yang masih menyala. Afifah menangis kesakitan. Namun, bila lelaki itu mendengar Afifah menangis, keamarahannya semakin menjadi-jadi. Untung saja di rumah, Afifah tidak sendiri, ada Etek* Rasidah yang menjadi pembelanya. Etek Rasidah adalah kakak sepupu ibunya yang sangat menyayangi Afifah seperti anak kandungnya sendiri, sebab sejatinya etek Rasidah tidak memiliki anak. Karena tidak bisa memberikan keturunan itulah makanya etek Rasidah di tinggal pergi oleh suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain dan kini tinggal di pedalaman Barus.
“Rasidah! Rasidah!.” Teriak lelaki itu sambil mengetuk pintu dengan keras.
“Sebentar!.” Jawab etek Rasidah dari dalam rumah. Tak lama, pintu pun terbuka. Lelaki itu kemudian mencampakkan Afifah ke lantai, sehingga Afifah tersungkur.
“Ada apa ini, Badrun? Memangnya apa salah si Afifah sampai kau perlakukan dia seperti ini?! Apa kau sudah lupa, si Afifah ini anak kandung kau, Badrun! Apa pantas kau berbuat seperti ini padanya?”
“Apa salahnya kata kau? Lamak inyo duduk di pantai tu samantara ambo malaut di pantai nun mancari kepeng! Apo indak ado lai karajonyo di rumah ko!”**
“Ambo nang ala mangarajokan sadonyo. Jadi kau indak perlu mambantai si Afifah macam ko!”***
“Alah! Kau bela terus si bisu yang tak berguna itu! Kalau aku tau akhirnya akan punya anak yang seperti ini, lebih baik waktu dia masih bayi merah kubunuh saja dari pada membuat susah seperti ini!”
“Badrun! Jaga bicara kau! Sudahlah Afifah, ayo ikut etek ke kamar.”
Etek Rasidah lalu membawa Afifah ke kamarnya, dan pertengkaran itu pun berakhir begitu saja. Di dalam kamar, Afifah terus menangis di dalam pelukan etek Rasidah. Etek Rasidah mendudukkan Afifah di sisi ranjang. Afifah hanya terdiam sambil menunduk. Yang di pikirkannya kala itu adalah mengapa bapaknya sangat membencinya? Apa sebenarnya salahnya? Kenapa bapaknya tega mengatakan kalau dia tak berguna? Apa karena dia bisu? Kalau saja dia boleh memilih, ia lebih memilih tidak terlahir ke dunia ini dari pada mendapatkan perlakuan kasar dari lelaki hitam legam itu. Tamparan lelaki bernama Badrun yang tak lain adalah bapak kandungnya itu, meninggalkan bekas lima jari di pipi putih Afifah. Etek Rasidah yang menyadari ada keanehan di pipi Afifah sertamerta bertanya pada gadis bisu nan malang itu.
“Kenapa pipimu, Fah?” Tanya etek Rasidah pada Afifah. Afifah hanya menjawab dengan gelengan. Etek Rasidah mendongakkan wajah keponakannya itu dan menatap dalam ke bola mata hitam milik Afifah. Sayu…, tak ada warna di sana. Yang ada hanya kesedihan. Pelan, etek Rasidah menyingkirkan tangan kanan Afifah yang sedari tadi menutupi pipinya. Darah etek Rasidah berdesir saat melihat bekas tamparan di wajah Afifah.
“Kenapa pipimu merah begini?.” Tanya etek Rasidah. Afifah tidak menjawab. Dia hanya menggeleng sambil terus menunduk. Sejatinya, tanpa di beritahu Afifah pun soal perkara sebab pipinya merah itu, etek Rasidah sudah mengetahui bahwa itu adalah bekas tamparan Badrun.
“Kane hampok lai?”**** Tanya etek Rasidah lagi. Gadis bisu itu hanya mengangguk sambil terus memeluk erat etek Rasidah.
“Sudah, sekarang tidurlah disini. Tidak akan terjadi apa-apa selama etek ada di sampingmu. Sudahlah, jangan menangis lagi.” Afifah lalu terlelap di pangkuan etek Rasidah. Matanya terpejam, namun ruhnya melayang mengembara ke alam mimpi. Ingin rasanya ia bertemu dengan ibunda tercinta walau hanya dalam mimpi. Malam itu, rembulan di langit pandan bersinar terang. Namun bintang tidak beramai-ramai berkumpul di panggung langit. Hanya ada satu bintang terpaku di samping sang rembulan. Nasib sang bintang sama seperti Afifah, sendirian…, tak punya teman. Hanya etek Rasidah yang setia menemaninya kala suka dan duka. Tapi sampai kapan etek Rasidah ada di sampingnya? Entahlah. Biarkan waktu yang menjawab. Sayup-sayup dalam keterlelapannya, Afifah mendengar suara langkah kaki dan derit pintu di buka. Lelaki itu, dia akan berangkat lagi menentang laut. Setiap hari ia berangkata kala malam menjelang, dan kembali ke rumah kala semburat jingga menghiasi langit pandan. Kalau pun dia pulang, itu hanya sebentar. Cuma sekedar untuk melepas lelah sambil menghabiskan barang dua tiga batang rokok dan menenggak segelas kopi. Setelah itu, dia akan pergi kembali menaklukkan laut dengan membawa serta perahu dan jala tua kepunyaannya, seperti malam ini…

***
Di ufuk timur sang mentari tersenyum malu, hendak menyapa seluruh alam. Ceracau burung turut bersuka cita, menyambut datangya pagi yang damai. Pagi memang damai, tapi tidak dengan hati Afifah. Hatinya pilu dan luka. Kembali batinnya teringat pada sang bunda, dengan sejuta kenangan indah yang di tinggalkannya. Dahulu, ketika ibundanya masih hidup, setiap pagi Afifah selalu membantu ibunya membuat panukkuk*****, mie gomak******, dan sate kerang untuk di jajakan di sekitar pantai Pandan. Tapi sekarang, semuanya telah menjadi kenangan, karena ibunda telah tiada bersamanya. Hati Afifah miris jika mengingat sebab kematian ibundanya. Ibundanya meninggal setelah dibunuh oleh seorang penjahat bertopeng, yang sampi saat ini, Afifah tidak mengetahui siapa penjahat bertopeng hitam itu. Malam hari ketika peristiwa tragis itu, Badrun sang ayah belum pulang melaut. Afifah masih sangat kecil ketika itu. Umurnya baru dua tahun. Saat Badrun sampai di rumah, dia sangat terkejut melihat istrinya telah terkapar lemas bersimbah darah. Afifah kecil hanya terdiam menangis sambil berdiri di sudut pintu. Air mata Afifah seketika berlinang mengingat kejadian yang merenggut nyawa ibundanya tercinta itu. Dalam hati Afifah bertekad akan membalaskan dendam kematian ibundanya. Tiba-tiba, dia teringat etek Rasidah. Kemana perempuan itu? Afifah lalu turun dari ranjang menuju dapur. Ternyata etek Rasidah ada disana sedang memasak panggang geleng*******.
“Kau sudah bangun!” Seru etek Rasidah ketika melihat Afifah telah berdiri di hadapannya. Afifah menjawab dengan anggukan. Afifah lalu duduk di kursi kayu dekat tungku sambil memandang etek Rasidah yang tengah memasak. Perempuan itu, mirip sekali dengan ibunya. Penuh kelembutan dan bersahaja. Dia seperti melihat wajah ibunda di diri etek Rasidah. Kemudian Afifah berdiri menuju ke arah jendela yang berhadapan dengan lautan luas. Dilepaskannya pandangan menghadap lautan. Dimana lelaki itu? Sedang apa dia? Batin Afifah dalam hati. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Afifah sangat menyayangi Badrun, ayahnya. Walaupun Badrun selalu menyiksa, memaki, dan memarahinya setiap hari. Dahulu, sebelum ibundanya meninggal, ayahnya tak pernah berlaku kasar seperti saat ini pada Afifah. Dia sangat baik, penyabar, dan penyayang. Dia juga sangat suka mengajak Afifah berlayar menikmati keidahan laut barang sekali seminggu. Tapi sekarang, sejak kematian ibunya, ayahnya berubah menjadi bengis. Entah setan apa yang merasukinya sehingga perlakuannya kepada Afifah menjadi kasar.
“Apa yang tengah mengganggu pikiranmu, Fah?” Tanya Etek Rasidah. Afifah hanya menggeleng.
“Kau merindukannya? Kau merindukan ayahmu?” Tanya etek Rasidah lagi. Kini Afifah menjawab dengan anggukan. Dialihkannya lagi pandangan ke laut. Samar-samar, Afifah melihat sebuah perahu dari kejauhan. Lelaki itu? Dia sudah pulang? Tapi, mengapa cepat sekali dia pulang? Padahal jingga belum bersemburat di panggung langit. Dari kejauhan Afifah bisa melihat raut wajah lelaki itu. Raut wajah kasar dan beku, bukan hanya itu. Ada yang berbeda pada wajah lelaki itu hari ini. Api seakan membara di wajahnya. Sepertinya dia sedang kesal dan marah. Biasanya puntung rokok yang sudah mengecil itu selalu terselip di bibirnya ketika dia pulang. Tetapi kali ini, puntung rokok itu tidak terselip di bibir hitamnya. Dia semakin mendekat dan akhirnya lelaki itu sampai ke rumah. Dia lalu masuk ke kamar dan menutup pintung dengan keras. Lalu dia keluar lagi menuju ke dapur. Dada Afifah kala itu berdegup kencang. Dia takut sekali. Perasaannya mengatakan kalau lelaki itu pasti sedang ada masalah dan sepertinya akan memarahinya. Badrun duduk di bangku dekat tungku yang sebelumnya di duduki Afifah.
“Kenapa cepat kau pulang, Badrun? Biasanya ketika senja kau baru pulang. Tapi kenapa kali ini, senja belum tiba, tapi kau sudah pulang.” Tanya etek Rasidah pada lelaki itu.
“Jangan sok perduli kau, Rasidah! Urus saja urusanmu sendiri!” Jawabnya setengah membentak, sambil kemudian menyalakan rokoknya dan membuang asapnya ke udara. Sesaat kemudian, lelaki itu terdiam. Wajahnya tetap dingin dan penuh amarah. Dia lalu berdiri menuju meja makan. Tiba-tiba…
“Brakkkk!!!” Lelaki itu membanting meja sekuat-kuatnya sampai kaki meja itu patah. Afifah dan etek Rasidah tersentak kaget dibuatnya.
“Dasar anak pembawa sial! Ini semua gara-gara kau!” Bentaknya pada Afifah. Dia lalu bangkit menuju tempat Afifah berdiri. Kemudian, dia menjambak rambut Afifah, menamparnya, menendangnya, meninju, lalu dia campakkan Afifah sampai terpental ke lantai. Darah mengalir dari bibir Afifah karena tamparan lelaki itu begitu keras. Afifah menangis terisak menahan sakit. Sekujur tubuhnya memar membiru.
“Ada apa kau ini. Badrun?! Ala gilo kau!******** Si Afifah tidak ada salah apa-apa, tiba-tiba kau hantam dia seperti ini! Kenapa kau, Badrun?!” Bentak etek Rasidah pada lelaki itu sambil memeluk Afifah yang tengah menangis menahan sakit.
“Sudah dua hari aku melaut, aku tidak mendapatkan ikan seekorpun! Ini semua karena dia! Dia ini pembawa sial! Dia yang membuatku tidak mendapatkan ikan! Kau…, kau sama saja seperti ibumu! Dasar pembawa sial!”
“Badrun! Kalau kau tidak mendapatkan ikan, itu bukan salah Afifah! Itu karena tadi malam terang bulan, makanya tangkapanmu tak ada seekorpun!”
“Alah! Dia memang anak pembawa sial! Sekali sial, tetap sial!”
“Badrun! Jaga bicaramu!”
Afifah melepaskan dirinya dari pelukan etek Rasidah dan berlari keluar, kearah laut. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah menyangka kalau ayahnya akan mengatakan semua yang di dengarnya tadi. Bahkan ayahnya juga mengatakan kalau dia sama seperti ibundanya, pembawa sial. Dia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan ini. Dia ingin pergi sejauh mungkin, agar dia bisa terbebas dari siksaan ayahnya yang teramat sangat menyakitkan baginya. Tangisnya pecah di tepian pantai. Ombak seakan tau gejolak di dada gadis bisu itu. Tekadnya sudah bulat, dia ingin pergi dari neraka ini selama-lamanya. Tapi, Afifah tak tau harus kemana langkah kakinya ia bawa. Tak lama, lelaki itu keluar lagi dari rumah, masih dengan raut wajah yang sangar. Dia berdiri dari kejauhan menghadap Afifah.
“Hei anak pembawa sial! Semoga kau cepat mati! Karena aku tidak ingin lagi melihat wajahmu di hadapanku!” Teriak lelaki itu dari kejauhan sambil membawa serta jala tua kepunyaannya dan perahu miliknya. Tatapannya tajam memandang lelaki itu. Kebencian tiba-tiba saja merasuk sukmanya. Tidak ada lagi rasa sayang dan cinta baginya untuk lelaki hitam legam itu. Yang ada hanya kebencian, kebencian yang timbul karena perbuatan lelaki itu yang sangat merobek-robek hati dan perasaannya. Tunggu saja saatnnya tiba. Kau akan mati. Kau akan mati di tanganku, putrimu sendiri. Batin Afifah dalam hati.
***
Hari lepas hari, bulan lepas bulan, tahun lepas tahun, tak terasa dua tahun sudah lelaki itu tak jua kembali ke rumahnya. Selama kepergian lelaki itu, entah mengapa Afifah merasakan bahagia dan tenteram hidup di Pandan. Selama Badrun pergi, Pandan kembali menjadi surga baginya. Semburat jingga di ufuk barat Pandan-kini telah kembali menyejukkan sukmanya. Etek Rasidah kini juga telah lega karena akhirnya Afifah telah tersenyum kembali. Sore itu, seperti biasa Afifah duduk di tepian pantai menikmati keidahan panggung langit di kala senja menjelang. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan senja hari itu, tiba-tiba dari kejauhan Afifah melihat sebuah kapal boat medekat menuju arah rumahnya. Kapal boat itu semakin dekat, semakin dekat, dan betapa terkejutnya Afifah ketika melihat seseorang yang turun dari kapal itu. Lelaki itu, dia telah kembali. Tapi, dia tidak sendiri. Dia membawa serta seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan etek Rasidah. Siapa perempuan yang menggandeng tangan ayahnya itu? Apakah dia itu istri baru ayahnya? Tanda tanya besar berkelebak di benak Afifah. Jika benar perempuan itu istri baru ayahnya, maka dia tidak akan pernah menerima itu semua. Sebab bagi Afifah, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibunya dalam hatinya.  Lelaki itu mendekati Afifah. Lutut Afifah seketika bergetar. Dia tidak berani memandang wajah lelaki itu. Lelaki itu lalu mengangkat dagu Afifah. Ditatapnya wajah Afifah dalam-dalam, lalu dia tersenyum sambil mendengus.
“Masih hidup kau ternyata! Ayo kukenalkan kau dengan ibu barumu!” Lelaki itu lantas menarik tangan Afifah dengan kasar. Dia belum berubah, bahkan semakin kasar.
“Siapa dia, Bang?” Tanya perempuan itu.
“Dia Afifah, anakku.”
“Oh, Afifah. Nama yang cantik. Secantik orangnya.”
“Iya, cantik. Tapi sayang, bisu! Pembawa sial! Sudahlah, ayo kita istirahat di rumah. Biarkan saja si bisu ini disini.”
Lelaki itu pun berlalu dari hadapan Afifah sambil menggandeng istri barunya. Sampai kapanpun, Afifah tidak akan mau menganggap perempuan itu sebagi ibunya. Darahnya semakin mendidih ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan ayahnya sesaat sebelum meninggalkannya tadi. Kebenciannya semakin menjadi-jadi. Dua buah bulir bening jatuh dari sudut pipi Afifah. Malam telah menjelang. Rasanya tidak ingin Afifah kembali ke rumah. Dia ingin berkeluh kesah dengan laut, dan mencurahkan segala gundah gulananya pada malam. Afifah tersentak ketika seseorang dengan lembut membelai rambutnya.
“Sudah malam, Afifah. Di sini dingin! Nanti kau masuk angin. Ayo masuk!” Dia etek Rasidah. Matanya sembab. Sepertinya dia habis menangis. Tapi kenapa? Apa yang terjadi pada etek Rasidah sampai dia menangis? Lama Afifah memandang wajah perempuan itu. Wajahnya pias. Senyum yang selalu tersungging di bibirnya, entah mengapa hari ini senyuman itu hilang dari wajah etek Rasidah.
“Afifah, apa kau menyayangi ayahmu?” Tanya etek Rasidah. Afifah terkejut medengar pertanyaan etek Rasidah itu. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu? Afifah lalu mengambil sebatang kayu, dan menuliskan sesuatu di atas pasir
Iya, aku sangat menyayanginya
“Apa kau menyukai perempuan yang di bawa ayahmu tadi?”
Tidak
“Apa kau mau dia jadi pengganti ibumu?”
Tidak. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu di hatiku
“Kalau begitu, bunuh mereka!”
Apa?!!! Afifah benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh etek Rasidah padanya. Membunuh?!! Bagaimana bisa dia membunuh lelaki itu? Walaupun pernah terbesit keinginan untuk membunuhnya di benak Afifah, namun sungguh Afifah tak berani melakukan itu.
Kenapa aku harus membunuh mereka? Tulis Afifah lagi.
            “Kau membenci ayahmu kan?”
            Ya
            “Bukankah ayahmu sering menyiksamu?”
            Ya
            “Ayahmu akan terus menyiksamu, Afifah. Kalau dia masih ada di dunia ini, hidupmu tidak akan pernah tenang. Kau sudah merasakan sendiri kan! Ketenangan itu datang padamu justru di saat ayahmu pergi. Karena itu Afifah, bunuh dia!”
Sejenak Afifah berpikir. Apa yang dikatakan etek Rasidah ada benarnya. Ketika ayahnya tidak ada di rumah, hidupnya begitu damai. Dia tidak ingin tersiksa lagi. Afifah tidak mau terus menderita didera nestapa berkepanjangan karena perlakuan bengis ayahnya. Keinginan untuk membunuh itu muncul kembali di pikiran Afifah. Malam ini, hidup lelaki itu akan berakhir. Seperti apa yang ada dalam batin Afifah dahulu ketika lelaki itu pergi meninggalkan Afifah, nyawanya akan berakhir di tangan Afifah, putrinya sendiri. Etek Rasidah mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Sebilah belati. Dia lalu menyerahkan belati itu pada Afifah. Bergetar tangan Afifah menyambut belati itu. Wajah etek Rasidah kala itu sangat dingin. Seperti elang yang hendak mencengkram mangsanya. Belum pernah Afifah melihat wajah etek Rasidah seperti itu. Etek Rasidah berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju rumah meninggalkan Afifah. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Jangan lupa Afifah, malam ini kau harus bunuh mereka dengan belati itu!”
***
Lelaki itu telah tertidur pulas di kamarnya bersama istri barunya itu. Sementara Afifah, dia diam terpaku menatap foto ibunya sambil memegang sebilah belati yang di berikan etek Rasidah. Batinnya benar-benar berkecamuk malam itu. Matanya terpejam. Air mata kembali menetes dari bola mata hitam itu. Lalu dibukanya mata perlahan. Tekadnya sudah bulat. Dia harus membunuh lelaki itu. Tidak besok, tidak lusa, tapi sekarang. Malam ini. Dia tengah tertidur lelap. Ini kesempatan Afifah untuk menghabisi nyawa lelaki itu. Perlahan, Afifah bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki pelan-pelan. Ketika sampai di depan pintu kamar, Afifah membuka pintu itu. Ternyata lelaki itu lupa mengunci pintu. Biasanya pintu itu selalu terkunci ketika dia sedang tidur malam. Ketika sampai di dalam kamar, Afifah berdiri terpaku menatap wajah lelaki itu. Afifah lalu tersenyum seolah mengucapkan selamat tinggal pada lelaki itu. Diayunkannya belati itu ke atas dan…
Zreppp!!! Darah mengucur dari tubuh lelaki itu.
“Bang!!!” Perempuan itu menjerit ketika menyadari suami barunya telah bersimbah darah. Afifah mencabut belati yang menancap di tubuh lelaki itu. Dadanya bocor. Dia telah mati. Dia sudah tidak bisa berbuat apapun pada Afifah. Afifah mendekati perempuan itu.
“Jangan…, jangan Afifah.” Pinta perempuan itu sambil menangis. Afifah duduk di samping perempuan itu. Ditatapnya perempuan itu dalam sambil tersenyum. Perempuan itu juga menatapnya. Afifah lalu memeluk perempuan itu, perempuan itu juga memeluknya erat sambil membelai rambutnya. Ketika perempuan itu sedang asyik memeluk dan membelainya, Afifah menghunuskan belati itu tepat di jantung perempuan itu. Perempuan itu terkulai lemas dan melepaskan Afifah dari pelukannya. Mereka sudah mati. Afifah telah membunuh mereka. Tapi, tiba-tiba rasa sesal menelusup ke dalam sukma Afifah. Afifah tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya. Afifah beranjak dari kamar berdarah itu. Dia buka pintu rumah dan berlari sekencang-kencangnya ke laut. Dia berteriak sekencang-kencanngya. Malam itu angin bertiup sangat kencang. Di laut sedang badai. Laut seakan tahu apa yang sedang Afifah rasakan. Afifah bersimpuh lemas di hadapan laut. Dia telah menghabisi nyawa Badrun, ayahnya sendiri. Nanar ditatapnya tangan dan bajunya yang berlumuran darah. Belati pemberian etek Rasidah masih tergenggam di tangan kanannya. Afifah tertunduk lemas. Samar-samar dia mendengar langkah kaki seseorang berjalan mendekatinya. Etek Rasidah…
“Ha ha ha!!! Bagus Afifah! Kau telah melakukannya! Kau, kau telah membunuh Badrun, Ayahmu sendiri! Ha ha ha!!”
Afifah mengangkat wajahnya dan menatap etek Rasidah yang tengah tertawa bahagia. Apa yang terjadi dengan perempuan itu? Begitu bahagianya dia ketika mengetahui Afifah telah membunuh ayahnya? Afifah kemudian berdiri dan berjalan ke arah etek Rasidah. Diambilnya sebatang kayu, dituliskannya sesuatu di atas pasir
Kenapa kau menyuruh aku membunuhnya?
“Kau mau tahu kenapa?! Karena aku mencintai ayahmu! Aku tidak ingin dia menikah dengan perempuan lain. Tapi, setelah aku tahu dia menikah dengan perempuan lain, aku berbalik menjadi membencinya. Sebab itulah, aku menyuruhmu membunuhnya! Karena aku tidak mau melihat dia bahagia bersama perempuan lain selain aku!”
Duarrrr!!! Bagai diksengat listri ribuan volt, Afifah tidak percaya dengan apa yang di katakan etek Rasidah. Perempuan itu, ternyata diam-diam mencintai ayahnya.
“Dan, kau mau tahu siapa penjahat bertopeng yang membunuh ibumu?” Lanjut etek Rasidah lagi. Ketika mendengar pertanyaan etek Rasidah yang demikian itu, Afifah menatap etek Rasidah dengan mata berapi-api. Dia tuliskan lagi sesuatu di atas pasir.
Siapa? Siapa penjahat bertopeng itu? Siapa yang telah tega membunuh ibuku?
“Aku!!! Aku yang telah membunuh ibumu, Afifah. Karena aku sangat membenci ibumu! Ha ha ha!” Jawab etek Rasidah sambil tertawa bangga. Bangga karena dia telah berhasil mengelabui Afifah. Afifah benar-benar geram mendengar perkataan etek Rasidah. Pisau belati itu masih tergenggam erat di tangan kanannya. Dia tuliskan lagi sesuatu diatas pasir
Terima kasih, etek Rasidah!
Dipeluknya etek Rasidah. etek Rasidah membelai rambutnya lembut sambil mencium kepalanya. Rembulan malam itu tidak bersinar. Entah kemana rembulan pergi. Bintangpun tidak ada bergelayut di panggung langit. Afifah memandang lurus kearah laut, masih dalam pelukan etek Rasidah. Dipandangnya pisau belati di tangan kanannya. Etek Rasidah masih membelai rambutnya lembut. Saat itulah, Afifah mengayunkan belati itu dan menghunuskannya ke tubuh etek Rasidah.
“A…Afifah…, k…kau…!”
Perempuan itu pun ambruk seketika. Belati itu masih menempel di tubuhnya. Afifah tidak sertamerta mecabut belati itu dari tubuh perempuan yang telah membunuh ibunya, dan telah membuat dia membunuh ayahnya. Biarkan perempuan itu mati membawa pisau belati itu. Pisau belati yang sejatinya adalah miliknya sendiri. Dia tidak pernah menyangka semua akan berakhir demikian. Orang yang selama ini menolongnya, menyayanginya, membelanya, ternyata dia penjahat bertopeng yang telah membunuh ibunya. Pandan malam itu bukan semburat jingga, tapi berselimut pekat malam. Pandan malam itu berdarah. Pandan bukanlah lagi menjadi surga baginya. Pandan benar-benar telah menjadi neraka. Bukan karena perlakuan ayahnya pandan menjadi neraka, tapi karena sesal di dirinya. Sesal karena dia telah membunuh Badrun, ayahnya sendiri.
                                                                                                            Medan, 7 April 2011
                                                                                                Oh, Sibolga… Aku rindu..
                                                                                               
Catatan :
*Bibi
** Seenaknya dia duduk di tepi pantai sementara aku bekerja di laut sana mencari uang! Apa sudah tidak ada kerjanya di rumah ini!
***Aku yang sudah mengerjakan semuanya. Jadi kamu tidak perlu membantai si Afifah seperti ini!
****Kena pukul lagi?
*****Kue yang terbuat dari tepung yang di panggang diatas cetakan bulat
******Mie Besar dengan kuah dan sayur
*******Ikan yang dimasak dengan cara di goreng dengan isi kelapa dan kentang\
********Apa kau sudah gila? 


Baca cerpen lainnya:
Perempuan Berwajah Teduh dan Selembar Rindu
Koro Si Katak dan Tuan Gagak Penipu


Saturday, October 29, 2011

Cerpen: Koro Si Katak dan Tuan Gagak Penipu

KORO SI KATAK DAN TUAN GAGAK PENIPU
Oleh : Lailan Syafira


lailansyafira.blogspot.com, book islamic, fiction books, fiction novels, islamic novel, Karya Sastra Terjemahan, novel islam, novels, published novel, story novelKoro adalah seekor katak rawa yang sangat suka bernyanyi dan melompat riang kesana kemari. Selain suka bernyanyi dan melomopat, Koro juga sangat suka berpindah tempat dari satu rawa hutan ke rawa hutan lainnya, seperti saat ini, Koro tengah bergembira menempati suasana tempat tinggalnya yang baru, disebuah hutan yang aman, tentram, dan penghuninya sangat ramah pada Koro. Setiap hujan selesai turun  membasahi bumi, dan ketika pelangi menyinari langit hutan itu, Koro selalu bernyanyi sambil duduk diatas bebatuan di dasar kolam yang terbentang idah di tengah hutan itu. Suatu hari, ketika Koro tengah asyik bernyanyi riang dia dasar kolam, seekor gagak datang menghampiri Koro.
“Agk…,agk….! Hei katak, sepertinya kau senang sekali tinggal di sini!” Si gagak berkata sambil terbang melayang tinggi di atas Koro. Mendengar suara si gagak, lantas Koro mendongakkan kepalanya memandang gagak.
“Oebek…, oebek….! Eh, tuan gagak! Iya. Jelas saja aku senang tinggal di hutan ini. Karena di disini aku punya teman-teman yang sangat baik padaku. Seperti tuan siput dan lebah. Di sini juga aku bisa berenang dan bernyanyi sesukaku. Oebek…, oebek…” Koro berseru pada si gagak, sambil terus melompat ke sana kemari.
“Ha, ha, ha! Katak, tidakkah kau tahu, bahwa di seberang sana ada hutan yang lebih tentram, damai, dan indah dari pada hutan ini. Di sana ada banyak makanan dan kau bisa menyantap makanan, juga melakukan apapun sesuka hatimu di hutan itu.” Ajak si gagak mempengaruhi Koro. Mendengar perkataan si gagak, muncul keinginan besar dalam diri Koro untuk pindah dan melihat hutan indah yang dikatakan si gagak padanya. Dengan semangat, Koro melompat tinggi dan menjawab dengan mantap ajakan si gagak.
“Oebek…, oebek! Benarkah tuan? Aku boleh melakukan apa saja dan mendapatkan makanan enak di hutan itu?” Tanya Koro pada si gagak.


“Tentu saja katak!”  Jawab si gagak.
“Asyik! Aku mau! Aku mau ke sana tuan gagak! Aku ingin tinggal di hutan itu! Cepat bawa segera Aku ke sana!” Seru Koro.
Koro terus melompat girang dan meminta pada gagak untuk segera mengantarkannya ke hutan itu, padahal tanpa di sadari Koro, ternyata si gagak sedang memperdaya dan menipu dia dengan mengatakan bahwa di tempat lain ada hutan yang lebih bagus daripada hutan tempat Koro tinggal sekarang. Koro tidak tahu kalau ternyata si gagak berniat untuk menjadikannya santapan siang.
“Agk…, agk…, baiklah katak. Aku akan membawamu ke sana. Ayo, ikuti aku!” Ajak si gagak pada Koro. Koro melompat mengikuti arah terbang gagak. Sementara di atas langit sana, si gagak tengah tertawa dengan pongah karena telah berhasil mengelabui Koro yang malang. Dari atas, si gagak berkata dan mengumpat dalam hati.
Dasar katak dungu! Bodoh! Mau saja kau ku tipu! Ha ha ha! Padahal kau tidak tahu kalau aku berniat ingin memakanmu, duhai katak dungu! Ha ha ha!
Koro terus melompat mengikuti si gagak yang tengah terbang di angkasa. Di dalam perjalanan, Koro bertemu dengan sahabatnya, tuan Siput yang saat itu tengah melintas di hutan.
“Koro, kau mau kemana, kawan?” Tanya tuan Siput heran.
“Aku mau pindah ke hutan seberang. Kata tuan gagak, di sana tempatnya lebih bagus daripada di sini. Ada banyak makanan dan di sana juga lebih ramai daripada di sini!” Jelas Koro pada tuan Siput. Mendengar perkataan Koro, tuan Siput malah kaget dan sertamerta melarang Koro untuk tidak memenuhi ajakan si gagak.
“Jangan Koro! Apa yang dikatakan si gagak penipu itu tidak benar. Di hutan seberang sana justru lebih sunyi dan tidak berpenghuni. Kau telah di tipu oleh si gagak, kawan! Gagak penipu itu hendak memangsamu! Lebih baik jangan, Koro!”



Tuan Siput terus berusaha mencegah Koro agar tidak memenuhi ajakan si gagak. Tapi, Koro tidak perduli. Dia malah memarahi tuan Siput dan menuduh tuan siput iri padanya.
“Oebek…! Tuan siput, apa yang kau katakan itu salah! Tuan gagak itu sangat baik hati dan suka menolong. Tuan gagak juga tidak pernah berniat untuk memakanku. Sudahlah tuan! Tenang saja! Aku akan aman nanti di sana. Aku pergi dulu ya! Oebek…, oebek!”
Koro terus melompat dengan girang tanpa menggubris sedikitpun nasehat tuan Siput. Koro yang malang tidak mengetahui bahwa si Gagak berniat menjadikannya santapan siang. Dalam hati, tuan Siput berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Koro. Di tempat yang sama, tuan Siput bertemu dengan Bebe si lebah yang saat itu kebetulan tengah melintas di hutan.
“Wahai tuan Siput, apa gerangan yang terjadi? Mengapa engkau kelihatan khawatir?”
“Aku khawatir dengan Koro.”
“Koro? Memangnya apa yang terjadi dengan Koro?”
“Aku baru saja bertemu dengan Koro. Dia diajak oleh si gagak untuk pindah ke hutan seberang. Kau tahu sendiri kan, hutan seberang sana itu sangat sunyi dan berbahaya. Aku taku, si gagak mempunyai niat yang tidak baik pada Koro. Aku takut kalau-kalau ternyata dia hendak menjadikan Koro sebagai santapan siangnya.” Tuan Siput menjelaskan panjang lebar kepada Bebe. Bebe mengangguk tanda mengerti.
“Jangan khawatir, Tuan! Aku akan pergi ke hutan seberang dan membawa Koro kembali ke hutan ini. Aku pergi dulu tuan!”
“Iya! Hati-hati ya, Bebe! Selamatkan dan bawa Koro kembali ke sini!”
Sementara itu di tempat lain, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampailah Koro dan si gagak di hutan yang kata si gagak aman, indah, dan ramai itu. Akan tetapi, betapa terkejutnya Koro, ternyata hutan itu sangat sunyi dan gersang.
“Oebek…, tuan Gagak, kemana perginya penghuni hutan ini? Kau bilang tadi di sini ramai. Kenapa sunyi sekali? Kemana buah-buahan yang kau bilang banyak itu? Kemana makanan lezat itu?” Koro bertanya setengah takut kepada tuan Gagak. Tuan gagak malah tertawa dengan pongahnya.
“Ha ha ha! Dasar Katak bodoh! Gampang sekali kau ku tipu! Memang, di sini memang tidak ada apa-apa. Aku mengajakmu kemari supaya aku bisa mengelabuimu. Sebenarnya, aku ingin menjadikanmu sebagai santapan siangku! Ha ha ha!” Si gagak terus tertawa. Koro semakin ketakutan.
“Jangan…, jangan tuan. Aku tidak mau di makan. Aku masih ingin hidup. Tolong jangan makan aku tuan. Ku mohon…” Koro memohon dengan sangat kepada tuan gagak, namun si gagak tidak peduli. Dia semakin menggila dan bernafsu untuk melahap Koro.
“Ha ha ha! Percuma saja katak bodoh! Aku tidak akan mengubah keinginanku. Walaupun kau berlutut sekalipun, aku tidak akan mendengarkanmu!”
Koro semakin takut. Koro menyesal karena tidak mendengar nasehat tuan Siput. Kalau saja dia tadi mendengar nasehat tuan Siput, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Koro terus memohon dan menjerit minta tolong.
“Tuan siput, tolong aku! Ternyata benar katamu, Tuan…, si Gagak ini hendak memakanku. Tuan…, tolong aku!” Koro berteriak sekencang-kencangnya.
“Percuma saja katak dungu! Tidak aka nada yang mendengar dan menolongmu. Sekarang, bersiaplah kau untuk ku makan!” Si gagak mengambil sikap hendak memakan katak. Namun tiba-tiba…
“Au………….! Au……….! Sakit!” Teriak si gagak. Sebuah sengatan berhasil mengenai tubuh si Gagak. Bebe si lebah telah dating menolong Koro. Koro sangat bahagia karena akhirnya ada yang dating menolongnya.
“Hei gagak penipu, pergi kau dari sini! Kalau kau berani memakan Koro, kau akan ku sengat sampai mati!” Bebe berseru memberikan peringatan kepada si gagak. Tak disangka tak di duga, si gagak takut setengah mati.
“Ampun..., ampun Bebe. Aku tidak akan memakan si katak! Baiklah, aku akan pergi.” Si gagak pun pergi meninggalkan Bebe dan Katak.
“Terima kasih ya, Bebe! Kalau tidak ada kau, mungkin tadi aku sudah di santap sama si gagak penipu itu. Aku menyesal sekali karena tadi tidak mendengar nasehat tuan Siput.”
“Sudahlah, Koro. Tidak perlu berterimaksih. Itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sesama. Lain kali, jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain. Bisa-bisa kau malah di tipu oleh orang itu.”
“Iya, Bebe! Aku akan selalu mengingat nasehatmu ini. Sekali lagi terimakasih ya!”
Bebe dan Koro saling berpelukan. Merekapun beriringan kembali ke hutan yang damai dan tenteram tempat mereka tinggal.

Medan, 27 April 2010
                                                                       


Baca cerpen lainnya:
Afifah dan Malam Berdarah di Pandan
Perempuan Berwajah Teduh dan Selembar Rindu

Cerpen: Perempuan Berwajah Teduh dan Selembar Rindu


Perempuan Berwajah Teduh dan Selembar Rindu


lailansyafira.blogspot.com, book islamic, fiction books, fiction novels, islamic novel, Karya Sastra Terjemahan, novel islam, novels, published novel, story novelRasa penat menyelimuti tubuhku. Terang saja, hari ini aku total tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Jangankan tidur, untuk duduk barang sejenak saja tidak bisa.  Hari ini, aku disibukkan dengan jadwal kuliah, latihan nasyid, mengajar, dan rapat organisasi. Kalau sudah begini, Ibu pasti bakalan ngomel karena melihat Aku pulang larut dan tentunya dalam keadaan lelah. Kulirik jam tangan monol yang baru dua hari diberikan oleh Ikhwan, adikku yang paling bontot sebagai hadiah ulang tahunku, yang menunjukkan pukul 17.00. Ah, adikku yang satu itu memang sangat perhatian sekali padaku. Sangat beda sikapnya dengan adikku yang kedua, Aini.
            Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Hmmm, rasa nyaman menelusup dalam sukma dan menjalar sampai ke sarafku. Ku pejamkan mataku, namun itu hanya berlangsung sejenak, sebab baru lima menit kupejamkan mata, pintu kamarku diketuk.
            “Siapa?” Tanyaku.
            “Ikhwan, Kak.” Jawab yang mengetuk dari luar, yang tidak lain ternyata adikku, Ikhwan. Dengan perasaan malas, Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Ketika kubuka pintu, Ikhwan berdiri di depan pintu sambil memegang segelas jus jeruk dan puding.
            “Ini buat Kakak.” Kata Ikhwan sambil menyodorkan gelas berisi jus dan sepiring puding padaku. Dia sudah rapi dan wangi ternyata. Kuraih gelas dan piring dari tangan Ikhwan sambil mengunyek rambutnya sayang.
            “Terima kasih, ya adikku sayang.” Seruku, sebelum akhirnya dia beranjak pergi meninggalkanku. Kututup dan kukunci kembali pintu kamarku. Ku seruput jus jeruk segar dan kuambil sepotong puding. Nyam…, enak…
            Tidak sampai lima belas menit, jus dan puding sudah habis kulahap. Kurebahkan kembali tubuhku ke tempat tidur. Mataku menerawang memandang langit-langit kamarku yang berukuran 3x4. Entah karena angin apa, tiba-tiba saja pikiranku diajak untuk kembali kepada masa-masa ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Ah, banyak kenangan yang tertinggal jauh disana. Kenangan ketika aku dihukum karena tidak mengerjakan PR, dihukum karena kabur dari sekolah karena tidak membawa perlengkapan sholat, sering diminta untuk mewakili sekolah dalam perlombaan baca puisi, dan masih banyak lagi. Tapi dari semua kenangan itu, ada satu hal yang sangat kurindukan. Aku merindukan pertemuanku dengan perempuan pemilik senyum manis dan suara merdu itu. Aku sebut itu merdu bukan karena perempuan itu pandai bernyanyi, tapi karena tiap kali ia bicara, suaranya merdu dan alami lagi enak didengar. Dia adalah guru ngajiku, perempuan bereselendang bianglala yang sempat mengisi hari-hariku ketika aku masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Rini Sartika, itu nama perempuan berwajah teduh itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Bu Rini. Terakhir aku bertemu dengannya ketika kami berpisah, tepatnya sehari setelah ia resmi disunting oleh seorang pria yang kutahu dari Bu Rini bernama Pak Iwan. Rasa yang aku tidak tahu entah apa namanya itu kembali merasuk dalam sukmaku. Apakah itu rindu? Ya, mungkin aku rindu pada Bu Rini.
***
“Hey, disini aja!” Seru Muni kepada kami semua sambil menunjuk sebuah ruangan yang dianggapnya aman untuk berganti pakaian. Seperti biasa, sepulang sekolah kami langsung lanjut sekolah mengaji, atau istilah sekolah kami dulu LP3B.
“Yuk, yuk, yuk!” Seru Diana, Aku, dan Nisa. Mereka adalah sahabat karibku sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di sekolah dasar ini. Sekolah yang katanya orang adalah sekolah anak-anak orang kaya dan terpandang di kota Medan. Dulu ketika masih SD, aku inggih-inggih saja menerima pernyataan itu, bahkan aku bangga. Tapi kalau sekarang aku mendengar pernyataan itu, aku rasa itu tidak benar.  Karena yang kutahu sekarang sekolahku itu hanya tampilan luarnya saja yang luar biasa, tapi jika dilihat dari dekat tidak ada apa-apanya.
“Kita makan siangya disini aja, ya! Nanti habis makan siang kita langsung ke kelas. Aku udah nggak sabar mau ketemu sama Bu Rini.” Kata Nisa
“Iya, aku juga nggak sabar. Bu Rini itu beda ya sama guru-guru kita yang lain. Udah cantik, baik, terus pakek jilbab pula.” Muni menimpali. Zaman aku masih SD dulu, guru yang pakai jilbab itu masih bisa dihitung dengan jari. Makanya, tiap ada guru yang pakai jilbab, kami langsung bilang kalau guru itu cantik dan baik hati.

“Ya udah, yuk cepat! Biar nanti kita nggak terlambat masuk kelas!” Kataku.
Usai berganti pakaian dan menghabiskan bekal makan siang, Aku dan ketiga sahabatku itu langsung bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas, Bu Rini sudah duduk manis diatas bangkunya sambil membaca sebuah buku yang aku tidak tahu apa judulnya. Buku itu cukup tebal dan judul besarnya bertulisan Arab. Masih ada waktu beberapa menit sebelum akhirnya kelas dimulai. Usai meletakkan tas, kami langsung menghambur kepada Bu Rini.
“Assalamualaikum, Bu!” Seru kami. Bu Rini tampak setengah kaget, namun sejurus kemudian Bu Rini tersenyum sambil membalas uluran tangan kami.
“Waalaikumussalam, Ananda.” Jawabnya. Ah, sebutan anananda itu pulalah yang membedakan Bu Rini dengan guruku yang lain, dan sebutan ananda itulah yang awalnya membuat aku sayang pada Bu Rini. Diana, Muni, dan Nisa kemudian keluar kelas setelah bersalaman dengan Bu Rini. Tapi aku tidak. Aku tetap berada di kelas. Aku ingin menemani Bu Rini, walaupun sebenarnya Bu Rini tidak perlu ditemani olehku, tapi aku ingin berada didekat Bu Rini.
            “Lala, sudah makan?” Tanya Bu Rini.
            “E…, sudah,Bu.” Jawabku.
            “Temani Ibu makan lagi, yuk!” Ajak Bu Rini. Sebenarnya aku canggu. Tapi karena Bu Rini memintaku untuk menemaninya, dengan senang hati aku tidak menolaknya. Ku tarik sebuah bangku dan kuletakkan bangku itu tepat disebelah bangku tempat Bu Rini duduk.
            “Lala mau Ibu suapin?” Tanya Bu Rini. Aku tidak menjawab, hanya memberikan isyarat dengan anggukan. Senang dan bahagia, itulah yang kurasakan ketika dengan tulusnya Bu Rini menyulangkan makanan ke mulut kecilku.
            “Lala tinggal dimana?”
            “Di Jalan Anggrek, Bu. Kalau Bu Rini tinggal di mana?”
            “Ibu tinggalnya di Jalan Pahlawan.”
            “Ooo. Kapan-kapan bolehkan Lala main ke rumah Bu Rini?”
            “Iya, Boleh, sayang! Nanti Bu Rini juga kalau ada waktu pasti main ke rumah Lala, Insya Allah”
            Tepat disulangan kelima, lonceng tanda masuk berbunyi. Saat Bu Rini menyulangkan sendok terakhir ke mulutku, Nisa, Diana, dan Muni datang. Tapi entah mengapa mendadak wajah mereka berubah seperti tidak suka padaku. Apa iya mereka cemburu karena aku disulang oleh Bu Rini? Entahlah.
Aku semakin dekat dengan guru LP3B itu. Hampir setiap hari, sebelum masuk kelas aku dan Bu Rini menghabiskan waktu untuk sekedar ngobrol, bercanda, makan siang, dan bercerita apa saja yang bisa dijadikan bahan ceritaan. Bu Rini juga sering mengajakku bermain teka-teki. Tapi seiring dekatnya aku dengan Bu Rini pula, ketiga sahabatku cemburu pada kedekatanku dengan Bu Rini. Pernah suatu ketika mereka mengatakan kalau aku ini anak emasnya Bu Rini dan aku telah merebut Bu Rini dari mereka. Tapi biarlah, lambat laun mereka pasti akan kembali lagi menjadi sahabatku seperti dulu.
Hari ini Bu Rini pakai baju biru, sesuai dengan warna permintaanku. Senyuman itu, senyuman tulus itu masih terus mengembang diranum bibir Bu Rini. Hari ini Bu Rini mengajarkan kami tentang menghormati orang yang lebih tua dan jangan melupakan jasa dari guru. Aku begitu antusias menyimak apa-apa yang dikatakan oleh Bu Rini.
“Misalnya, nanti kalau kalian sudah besar, kalau ketemu sama Ibu, Ibu pasti akan mengingat dan mengatakan, eh, inikan Lala yang ingusnya keluar masuk itu kan?” Semua murid tertawa mendengar cerita Bu Rini. Aku pun mau tak mau ikut tersenyum sipu mendengarnya. Bu Rini memang sering sekali memakai namaku jika membuat sebuah pemisalan. Terang saja karena itu semua anak di kelas iri dan tak suka padaku, terutama ketiga sahabatku.
***
            “Lala, ini ada kado kecil dari Ibu buat Lala.” Kata Bu Rini padaku. Hari itu, entah mengapa aku merasa Bu Rini tidak seperti biasanya. Bu Rini seperti hendak mengutarakan sesuatu padaku, dan aku tak tahu itu apa. Kuraih hadiah berbungkus kertas kado berwarna biru muda dengan motif boneka itu. Sejenak kemudian kulihat ada embun menitik disudut pipi Bu Rini.
            “Ibu kenapa? Kok nangis? Ibu sakit? Atau, Ibu marah sama Lala?” Tanyaku penasaran. Bu Rini hanya menjawab dengan gelengan sambil tangannya membelai lembut jilbabku.
            “Kadonya boleh Lala buka sekarang?”  Tanyaku lagi. Bu Rini hanya mengangguk. Tangan kecilku perlahan membuka bungkusan itu supaya kertas pembungkusnya tak rusak. Setelah semua bungkusnya terbuka, subhanallah, sebuah jilbab biru muda ternyata di dalamnya. Tanpa sadar, aku menangis. Menagis karena haru, menangis karena aku bahagia karena Allah telah mempertemukanku dengan perempuan berhati mulia seperti Bu Rini. Bu Rini kemudian menatapku sambil tersenyum dan lalu memelukku erat, sambil masih dengan linangan air mata. Aku masih tak tahu, sebab apa yang membuat Bu Rini sampai sesedih ini. Sejenak kemudian, Bu Rini melepaskan pelukannya.
            “Lala, mulai minggu depan Ibu tidak akan mengajar lagi di sekolah ini.”
Duaarr!! Kata-kata Bu Rini ibarat petir di siang bolong yang menyambar hatiku. Kontan, aku kaget. Dunia ini terasa seperti berhenti berputar. Aku tak percaya, baru sebulan Bu Rini mengisi hari-hariku di LP3B, dia sudah harus pergi meninggalkanku. Secepat ini?
“Ibu mau kemana?” Tanyaku setengah terisak.
“Hari Minggu ini, Ibu akan menikah,Nak.” Jawabnya. Tak biasanya Bu Rini memanggilku dengan sebutan “Nak”. Ada angin lembut yang menyelinap dalam hatiku kala itu, tapi hanya sesaat. Karena rasa sedih lebih besar dari rasa senang karena Bu Rini memangilku dengan sapaan itu.
“Ibu mau tinggalkan Lala? Ibu jangan pergi!” Pintaku. Kali ini tak lagi terisak, tapi aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Bu Rini. Lama kami saling tangis dan peluk, sampai akhirnya Bu Rini melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan sapu tangannya.
“Lala, suatu saat Ibu yakin, kita pasti akan bertemu kembali. Bu Rini tidak akan pernah melupakan Lala. Bu Rini janji, suatu saat nanti Bu Rini akan datang ke rumah Lala. Jadi, Lala jangan sedih ya, sayang. Nanti cantiknya hilang lho!” Kata Bu Rini sambil menggodaku. Aku pun tersenyum sambil menghapus air mataku. Hari itu langit cerah, tetapi langit hatiku mendung. Diam-diam dalam hati aku berdoa agar Allah mempertemukan kembali aku dan Bu Rini.
“Nah, sekarang Lala tutup mata.” Pinta Bu Rini. Aku tak tahu apa yang hendak dilakukan Bu Rini, tapi aku menuruti perkataannya. Kututup mataku, namun baru lima menit aku menutup mataku, aku mendengar sebuah suara yang sangat tidak asing lagi di telingaku. Suara yang ketika pagi melengking hebat  membangunkanku, dan.. Nyes… aku merasakan titik air membasahi wajahku.
“Lala! Bangun! Sudah sore begini kamu masih tidur!” Suara lengkingan itu ternyata suara Ibu, dan titik air tadi ternyata Ibu yang menyipratkannya ke wajahku karena aku tidak mau bangun. Oh Robbi, ternyata yang tadi hanya mimpi. Betapa sedihnya aku karena mengetahui apa yang barusan terjadi hanya mimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata. Ah…
***
Rembulan tersenyum mesra ditemani kerlipan bintang. Disana kutemukan senyum Bu Rini yang sampai hari ini masih kurindukan. Ah, kalau saja Bu Rini ada disini, kalau saja aku bisa bertemu dengannya setelah beberapa tahun lamanya, aku akan menumpahkan semua kerinduanku padanya. Pasti sekarang Bu Rini sudah punya anak yang ganteng seperti ayahnya, dan cantik rupawan seperti Bu Rini. Oh, Bu Rini, dimana gerangan Ibu sekarang. Aku Rindu dengan senyum dikulum yang dahulu sering ibu sunggingkan padaku, aku rindu suara merdumu, Bu Rini sayang.
            Tok.. tok… tok!! Suara pintu kamarku di ketuk.
            “Masuk aja, nggak dikunci.” Seruku.
            “Kak, ada tamu yang nyariin kakak!” Ternyata Ikhwan yang mengetuk pintu. Tamu? Tidak biasanya semalam ini ada tamu yang mencariku.
            “Siapa?” Tanyaku lagi.
            “Nggak tahu, Kak. Ibu-ibu sama anak dan suaminya.” Jawab Ikhwan lagi. Apa?! Ibu-ibu beserta anak dan suaminya?! Makin penasaran. Seingatku, aku tidak punya kenalan yang sudah punya anak. Kalau yang sudah menikah, temanku banyak yang sudah menikah, tapi belum punya anak. Rasa penasaran terus bergelayut dalam hatiku.


            “Bilang tunggu sebentar.” Jawabku kemudian.
Tak lama, aku pun keluar kamar menuju ruang tamu. Diruang tamu ada Ibu, Ayah, Ikhwan, dan tamu yang diceritakan Ikhwan padaku. Mereka duduk membelakangiku. Dua anak yang imut-imut itu, aku seperti menemukan wajah seseorang di wajah mereka. Tapi siapa ya??
“Nah, itu Lala, Bu!” Seru Ibuku kemudian ketika mengetahui aku telah berada di ruang tamu. Perempuan berjilbab biru muda yang sedari tadi duduk mebelakangiku kemudian memalingkan wajahnya sambil tersenyum padaku, dan… deg… betapa aku tak percaya dengan siapa yang kulihat di depanku.
“Bu Rini…” Kataku pelan. Seketika ku rasakan dunia gelap.




Medan, Juni 2011
Dalam hening malam...
Bersama rinduku padamu Bu Rini sayang...






Baca cerpen lainnya: 
Afifah dan Malam Berdarah di Pandan 
Koro Si Katak dan Tuan Gagak Penipu